Sebagai ibu rumah tangga yang sibuk dengan rutinitas anak sekolah dan pekerjaan rumah, bergabung dengan organisasi kepenulisan FLP merupakan healing terbaikku. Bukan karena aku seorang yang pandai menulis, banyak karya atau lainnya. Ini karena aku ingin mencari motivasi dan inspirasi dalam dunia literasi. Terutama dalam hal membaca. 

Melalui FLP membaca yang dulu tidak ada waktu, sekarang jadi rutinitas sehari-hari, walaupun itu hanya lima belas menit. Dengan kebiasaan ini, aku harap bisa memberi contoh yang baik, bagi anak-anakku, saudara dan juga lingkungan sekitar.

Silatwil 2025 yang Berkesan

Sama halnya dengan momen Silatwil FLP pada tanggal 18 Januari 2025 di Pamekasan. Ini adalah kesempatan keduaku ikut berpartisipasi dalam agenda besar FLP wilayah Jawa Timur. Silaturahim wilayah atau biasa disingkat Silatwil ini digelar setiap dua tahun sekali. Dan untuk tahun ini digelar di kota Pamekasan, Madura. 

Ucapan terimakasihku tak terhingga untuk motivasi teman-teman sehingga aku bisa hadir di Silatwil mewakili FLP cabang Ponorogo. Segudang pengalaman yang memberikan banyak arti yang sangat menginspirasi. 

Untuk transportasi menuju ke Pamekasan akupun tak perlu khawatir, karena teman-teman FLP wilayah Jawa Timur memberikan kemudahan dengan menyediakan akomodasinya. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 6 sampai 7 jam, rombongan kami pun tiba di Pamekasan pukul 11.20 WIB. Kota yang memiliki ikon senjata “Arek Lancor”, kabupaten Pamekasan, Madura. 


Rangkaian Agenda Silatwil 2025

Acara pembukaan Silatwil digelar di Pendopo Budaya yang tak jauh dari alun-alun Pamekasan. 

silatwil flp jawa timur 2025 di pamekasn

Diawali dengan penampilan puisi teman-teman ranting FLP Cabang Pamekasan dan bedah buku Novel “Nona Jepun” oleh penulisnya Bunda Sinta Yudisia.

Dibuka dengan pembacaan puisi oleh anak-anak pesantren FLP Ranting Cabang Pamekasan yang sangat luar biasa. Suatu prestasi yang sangat membanggakan dari FLP Cabang Pamekasan, memiliki 10 Ranting Cabang yang tersebar di Pesantren di Madura. Setiap Ranting Cabang ini dibina oleh ustad ustadzahnya untuk mewadahi aktivitas dan karya santri di dunia literasi, baik itu puisi cerpen, bahkan novel.

Sedangkan untuk Bunda Yudisia, memaparkan Novel Nona Jepun yang syarat akan makna sejarah Indonesia di Masa penjajahan Jepang. Beliau menyampaikan bahwa karya yang kita tulis harus mengandung budaya masyarakat Indonesia yang diolah dengan apik. 

Nantinya pembaca atau masyarakat dapat mengambil nilai yang baik dari sebuah budaya itu. Beliau juga menyampaikan untuk teman-teman FLP aktif dalam mengikuti ajang perlombaan literasi yang diadakan oleh banyak lembaga di setiap tahunnya.   

Setelah peserta ishoma, acara Silatwil dilanjutkan dengan sarasehan budaya oleh dua sastrawan asli Pamekasan. Menariknya lagi acara ini digelar di sebuah kafe yang berlokasi di tepi pantai Talang Siring. 

Suasana pinggiran pantai yang sejuk, membuat acara sarasehan semakin seru. Setelah rangkaian acara silatwil ini kita lalui, acara penutupnya adalah safari literasi di wisata bukit Puncak Ratu pada Minggu pagi. Di sini digelar sesi sharing dan pemaparan program kerja FLP wilayah Jawa Timur untuk ke depannya. 

Perjalanan Silatwil yang cukup singkat, namun memberikan banyak motivasi dan inspirasi. Motivasi untuk berliterasi. Menggoreskan kebaikan melalui karya. Mengabadikan kebajikan lewat pena. 


Penulis: Anita Puspitasari

Editor: April Fatmasari